"Tes Tidur Untuk Diagnosa Obstructive Sleep Apnea "- Overnight Sleep Test

Dr. Mevin Handoyo, MKK

Pendahuluan

Pada kondisi normal, pada saat kita tidur jalan nafas kita cenderung tetap terbuka, yang memungkinkan kita dapat bernafas dengan normal (Gambar 1), pada keadaan tertentu saluran nafas ini dapat tertutup (gambar 2) dan menyebabkan gangguan tidur yang disebut dengan “obstructive sleep apnea” atau lebih dikenal dengan singkatan OSA.

picture1

Gambar 1. Saluran Nafas Normal


OSA adalah gangguan tidur yang dapat berakibat serius dimana pernafasan berulang kali berhenti ketika tidur, penelitian menunjukan OSA dapat menjadi faktor tunggal penyebab darah tinggi (hipertensi), dimana OSA yang paling ringan meningkatkan risiko hipertensi sebanyak 43%, selain itu OSA juga telah dikaitkan dengan risiko diabetes dan obesitas.


picture1

Gambar 2. Saluran Nafas Tertutup


Tanda dan Gejala OSA

1. Pada saat tidur

a. Terbangun pada malam hari disertai sesak nafas

b. Mendengkur

c. Sulit tidur nyenyak

d. Berkemih di malam hari

2. Pada saat bangun tidur

a. Sakit dada

b. Sakit kepala

3. Pada saat bekerja (siang hari)

a. Rasa kantuk yang berlebihan

b. Rasa lelah

c. Gangguan mood (depresi atau stress)

d. Gangguan lambung

e. Gangguan kognitif (memory jangka pendek, konsentrasi)

f. Tekanan darah tinggi


Diagnosa OSA

Penetapan Diagnosa OSA dilakukan dengan pengkajian gejala melalui auto-anamnesis dan allo-anamnesis dan dikonfirmasi dengan suatu test yang disebut “overnight sleep study” atau “polysomnography” , pada test ini digunakan alat khusus (Gambar 3) yang merekam aliran nafas dan kadar O2 didalam darah selama pasien tidur pada kondisi lingkungan yang terkontrol. Hasil dari rekaman ini akan di intepretasi oleh dokter.


picture1

Gambar 3. Test Overnight Sleep Study

Manajemen OSA

Manajemen OSA bergantung pada tingkat keparahan OSA, dimana OSA ringan mempunyai pilihan terapi yang lebih banyak dibandingkan dengan OSA berat.

Pada dasarnya ada 3 jenis terapi utama untuk OSA yaitu:

1. Terapi dan pencegahan secara konservatif seperti menghindari alcohol, rokok dan mengubah posisi tidur.

2. Terapi mekanikal seperti penggunaan alat Continuous Positive Airway Pressure / CPAP (Gambar 4)

3. Terapi bedah seperti namun tidak terbatas pada Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP), rekonstruksi craniofasial dengan memperbaiki lidah atau tulang maxillomandibular dan tracheotomy.

picture1

Gambar 4. Penggunaan Alat CPAP

Seperti yang ada pada semua hal, terapi-terapi primer OSA juga memiliki keuntungan dan kerugian, sebagai contoh:

Terapi konservatif cenderung tidak membutuhkan biaya namun juga cenderung tidak memberikan efektifitas yang cukup

Terapi mekanikal jelas lebih efektif daripada konservatif, namun tidak semua orang berpendapat menggunakan alat CPAP secara terus menerus seumur hidup adalah pilihannya.

Terapi bedah seperti UPPP jelas paling efektif diantara semua pilihan terapi, namun tidak semua orang punya keberanian untuk menjalani prosedur pembedahan untuk mendapatkan solusi yang lebih permanen terhadap OSA.

18 Sep 2015

terima kasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat ini. semoga memberikan manfaat bagi pembacanya. saya memiliki artikel sejenis yang bisa anda kunjungi di sini <a href="http://indonesia.gunadarma.ac.id"/>EXPLORE INDONESIA</a>

Zahra
18 Jan 2016

Terima kasih dok artikelnya sangat bermanfaat

Ali Ahmad
20 Apr 2016

boleh saya minta kontak dokter

Bambang Sugito
20 Apr 2016

kirim email saja mas ke info@ssmedika.co.id , dokternya cukup informatif

Gatry Amalia Sari
14 Jan 2017

terimakasih infonya dan silahkan untuk refernsi terkait kedoketeran kunjungi www.il.gunadarma.ac.id

herawati
29 Oct 2017

Saya mengalami berkemih dimalam hari
Babgun tidur pusing dan siang mengantuk

Add a Comment